Jombang, 20 Juni 2026. Kegiatan Seminar Pra Wisuda Tahfidz Al-Qur’an Pondok Pesantren Hubbul Qur’an Yassalam diawali dengan sambutan Pengasuh Pondok Pesantren, KH. Miftahul Huda. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa setiap santri memiliki latar belakang, karakter, serta visi hidup yang berbeda-beda. Karena itu, para santri tidak perlu memaksakan diri menjadi sama dengan orang lain.

Beliau mengutip firman Allah SWT dalam QS. Al-Isra ayat 84, “Qul kullun ya’malu ‘ala syakilatihi” yang menjelaskan bahwa setiap manusia beramal sesuai dengan karakter, potensi, dan jalan hidup yang Allah tetapkan baginya. Menurut beliau, tidak semua santri harus menjadi kiai, ustaz, atau menempati posisi tertentu dalam bidang keagamaan. Setiap santri dapat berkontribusi sesuai potensi yang dimilikinya selama tetap membawa nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupannya.

Materi Seminar
Seminar menghadirkan Elysa Nurul Qomaria, M.Pd., Sekretaris Program Studi Bimbingan dan Penyuluhan Islam (BPI) IAI Al-Urwatul Wutsqo Jombang sebagai pemateri pertama, berkolaborasi dengan Direktur Women Crisis Center (WCC) Jombang. Kegiatan dipandu oleh sastrawan Jawa Timur, Lukmanul Hakim.
Dalam materinya yang bertajuk “Mengenali Potensi Diri dalam Perspektif Islam”, Elysa mengajak para santri untuk memahami bahwa setiap manusia diciptakan Allah dalam bentuk terbaik sebagaimana firman-Nya dalam QS. At-Tin ayat 4, “Laqad khalaqnal insana fi ahsani taqwim.” Menurutnya, tidak ada manusia yang lahir tanpa potensi. Yang membedakan adalah sejauh mana seseorang berusaha mengenali dan mengembangkan potensi tersebut.
Ia menjelaskan konsep syakilah dalam Al-Qur’an sebagai cetakan unik yang Allah berikan kepada setiap manusia. Karena itu, para santri tidak perlu sibuk membandingkan diri dengan orang lain, tetapi perlu fokus menemukan kelebihan yang Allah titipkan dalam dirinya.
Dalam kesempatan tersebut, Elysa juga mengingatkan bahwa wisuda tahfidz bukanlah garis akhir perjuangan, melainkan titik awal pengabdian. Ia mengajak para santri untuk membawa nilai-nilai Al-Qur’an ke berbagai profesi dan bidang kehidupan.
“Setelah khotmil Qur’an dan wisuda selesai, pertanyaan terbesarnya bukanlah akan menjadi apa, tetapi melalui jalan apa kita akan mengabdi kepada Allah. Dunia tidak hanya membutuhkan orang yang hafal Al-Qur’an, tetapi membutuhkan orang yang menghadirkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam setiap profesi,” ungkapnya.
Melalui seminar ini, para santri diharapkan mampu mengenali potensi yang dimiliki, menyusun visi masa depan, serta menjadi generasi penghafal Al-Qur’an yang memberikan manfaat bagi umat, bangsa, dan agama.





